Self Reminder
#Journal11 - Declaration of Indie Art
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Bogor, Kamis 18 Mei 2017
Hello… this is Pey.Journal
Hari ini aku membuat keputusan yang
sialan. Bangsat emang. Kenapa tingkah gua brengsek banget sih. Ya… jadi gua
keluar dari tempat kerja. Lebih tepatnya kabur
sih. Di tempat kerja baru. Baru 2 hari. Ah jijik banget lah kalo di inget lagi.
Sudah kuputuskan. Gua gak akan kerja bagian multimedia
lagi. Mau itu desain, ngedit video, motret,
atau hal apapun yang berkaitan dengan kreatifitas & butuh kerja otak GUA
KAGAK MAU. Gua gak cocok
kerja otak. Bikin pusing bangsat. Gua mendingan kerja capek dari pagi ampe
malem, tapi abis kerja plong gak perlu mikirin tugas lagi. Kreatif tuh
kepikiran terus tiap hari tiap waktu men.
Menurut pandanganku. Karya seni tuh
relatif. Hal yang menurut kita bagus, belum tentu orang lain juga bilang bagus.
Sesuatu yang gua bikin & kita menyukainya, gak bisa kita paksain orang buat
suka juga. Jadi seni itu untuk kepuasan pribadi. Seni bukan pekerjaan, tapi
kebebasan. Sangat lah tida coco kalo seni itu dipaksakan. Apalagi suruh
dilakukan dengan jangka waktu dekat & deadline yang keparat. Dimana letak
kebebasannya kalo gitu?
“Kreatif
hak segala bangsa. Berkarya butuh otak. Otak tak bisa dipaksa.”
Huvt! Kzl!
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan populer dari blog ini
#Journal83 - Aku Sakit, Kau Tak Menjengukku
Rabu, 26 Juni 2019 Siapakah kita jika suatu saat sakit dan tak berdaya? Sakit adalah perkara yang sudah pasti dihindari oleh banyak orang. Beberapa waktu lalu seorang sahabat jatuh sakit. Namanya Ruben Bentiyan , biasa dipanggil Mang Randu . Dan tadi pagi Mang Randu baru saja diizinkan untuk pulang. Pulang sebagai pasien yang harus tetap beristirahat dan dirawat di rumah. Kita semua bisa mengalami apa yang dialami oleh Mang Randu dengan berbagai variasi: sakit yang berbeda atau hal lain, misalnya trauma, depresi, dipecat, masuk tahanan entah karena apa, dan lainnya, dan lainnya. Kalau kita mengalami itu, kehilangan seluruh kapasitas survival kita tersebut, pertanyaanya: daya dukung apa yang kita miliki? Dan seberapa panjang? Merenungkan hal ini mirip dengan ketika kita belajar ilmu sosial tentang masyarakat atau komunitas yang mengalami “ syok ” dan “ krisis ”. Lumrahnya, yang pertama-tama akan mendukung kita adalah keluarga. Tapi, berapa lama dan seberapa kuat kelu...
Komentar
Posting Komentar