Self Reminder

#Journal14 - Life Sucks

Kamar Aman nan Nyaman
Selasa, 23 Mei 2017

Aku Ferry.

            Sepi, seperti biasa. Sangat sepi. Hariku sepi. Orang yang bisanya koar-koar juga sepi. Koar ae terus ampe mulut berbusa, aksi kagak ada. PLER!! Kenapa gua gak keluar selagi bisa? Kenapa gua malah bertahan? Padahal gua tau pasti begini lagi. Yasudala, tak apa. Nanti juga bubar sendiri.

            Gua ngerasa kayak lulusan baru lagi. Kayak baru keluar SMK lagi. Bingung mau melanjut hidup begimana, jadi siapa, mau kemana, & bla bla bla. Yha. “Life sucks”.

            Apa? Qu kurang bersyukur? Yak, mungkin itu sebabnya. Semua orang punya batas kesabaran masing-masing. Pun aku. Stress bukan pilihan. Dan tak ada yang mau merasakannya. Tapi semua orang pasti pernah mengalaminya.

            Apa? Qu cuma anak rumahan? Yang menjalani pekerjaan biasa? Hidup serba biasa? Jadi gak ada alasan buat stress? Yak betul.

            Ya aku anak rumahan. Bisa diem berjam-jam dikamar hanya untuk sekedar berbaring, & kadang menulis. Seperti ini contohnya. Qu bukan anak main. Yang keluyuran kemana-mana. Qu tak punya duit. diam dirumah, & makan masakan mama setiap harinya sudah cukup mnyenangkan. Walau kadang kondisi rumah tak selalu damai seperti ceritaku ini.

            Ya kesibukanku biasa. Apa yang bisa diharapkan dari lulusan SMK sepertiku? Yang semasa sekolahnya kadang setengah hati. Jurusan Multimedia? Ckckck. Qu tak yakin pantas disebut lulusan yang kompeten. Yah, emangnya belajar apasih pas sekolah. Sertifikat? Ya itu ada. Teman seangkatan punya semua. Entah handal atau tidak. Entah berarti atau tidak. Yang pasti itu formalitas belaka. Kertas ya cuma kertas.

            Ya ku hidup serba biasa. Tak ada event khusus yang terjadi belakangan. Kalaupun ada, mungkin ku skip saja. Begitu biasa. Ketika kau melakukan hal biasa yang semestinya, respon orang pun biasa saja dalam menanggapi hal yang biasa itu. Mungkin sudah menjadi kebiasaan, sehingga hal yang tak biasa dianggap tabu & tak layak. Yah apa salah bertindak diluar yang biasa aja. Entahlah.

            Ya ku tak punya alasan untuk stress. Pun orang lain. Tapi setiap orang punya batas. Ku tak tau kenangan macam apa yang pernah dilalui setiap teman yang kujumpuai. Pun sebaliknya. Menurutku, sebuah kesalahan kita bertindak so tegar, so kuat, & so yang lain-lain. Memang kita harus kuat, tapi bukan berarti alasan untuk menjadi keras kepala. Terlalu egois kalau kita mengucap dapat melalui segala rintangan. Berkata memang mudah, tanpa dibarengi aksi itu percuma. Jadi cobalah tuk berhenti sejenak.

            Apakah salah kita pernah gagal? Segitu buruknya kalau kita menangis? Bukankah dalam agama pun di ajarkan untuk berserah diri kepada Tuhan YME? Lalu apa gunanya berdo’a? bukankah untuk meminta pertolongan ketika susah, & bersyukur ketika bahagia? Belum cukup membuktikan kalau kita tak berdaya? Yha. Semua orang punya pandangan masing-masing.


Kini ku hanya remaja suka nulis. Andai setiap ku nulis ada yang mau bayar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Journal83 - Aku Sakit, Kau Tak Menjengukku

Biodata With Flash